warna "maafkan aku"

  • Sabtu, 31 Januari 2015
  • 00:15:21 WIB
  • Cerpen
  • Link
  • Dibaca: 1000


Hingga aku tidak bisa berkutik, suasana ini begitu terasa menghimpit, waktu dan tempat dan sekitarku menjadi tekanan begitu cukup menyesakkan isi dada. Beberapa sahabat yang semula bercengkrama, sekarang hanya diam.. atau sesekali menjawab dingin, mereka yang baru hadir dalam catatanku tak mau tahu jadi apa aku disini. Sudahlah, tidak seorangpun akan aku jadikan sandaran kekalutan ini.. tidak ada yang pantas kusalahkan, mereka ku anggap benar.

Tapi langit pun mendung mengguyur bumi pijakanku, matahariku hilang, cahayanya redam oleh awan hujan.. angin kencang terdengar mengancam.. aku semakin takut berusaha mencari jalan agar keluar lalu memeluk bulan, namun sejauh mata memandang hanya ada bangunan-bangunan tersusun rapat.. sudahlah, sia-sia aku mengharap alam sebagai sandaran..

                Ataukah aku akan bersandar pada kenyataan ? dan pasrah tenang menjalaninya ? disudut bangunan rapuh yang diguyur hujan, dalam kesendirian mataku semakin basah mencoba melepas beban.. dimana lagi tempatku ? apalagi kesalahanku ? siapa lagi yang akan memusuhiku ? kapan .. tuhan lekas mencabut nyawaku ?

Sekarang aku berdiri menaiki kursi, ditanganku sebilah pedang telah terbentang siap menebas urat kehidupan, sedang dihadapanku melingkar seutas tali, seperti kalung lingkarannya menganga.. semoga suara hujan bisa menyamarkan suara derit kursi yang patah menggantung tubuhku, dengan leher terikat erat.. biarkan pedang perjuanganku jatuh berdentang.

Maafkan aku semuanya salahku, aku penyebab kesalahan yang beruntun dan tak berujung ini.. tidak ada yang patut dihukum selain aku. Gara-gara aku semua menangis, ayah pergi terkena serangan jantung, ibu menjanda dan pergi tak kembali, kakak ku semakin gila.. keluarga ku hilang.. dimana-mana bertebar gambar kekhilafanku, mempermalukan diri sendiri untuk kepuasan nafsu.. mereka yang mengaku sahabat sebagian menangis, kemudian memasang pagar sebatas senyuman.. sebagian temanku justru ikut membuka lebar-lebar kesalahanku, ikut mengusik mengecam keadaan menjadi semakin runyam,, ketentramanku hilang.. kesalahanku menyeret mimpi buruk untuk orang-orang yang aku sayangi. Maafkan aku…

                Aku tidak ingat kapan hujan mereda, dan sekitarku gelap gulita..

@untuk semuanya, maafkan aku..bahkan diakhir kehidupanku pun menjadi kesalahan dan aib untuk semua. Aku menyerah. Aku menyesal.

Kisah seorang pelajar yang tertangkap basah berbuat mesum didalam kamar kosan, kasusnya mencuat dan diekspos dibeberapa media massa. seorang wanita yang tidak menemukan kasih sayang keluarga hingga akhirnya sebagai bentuk pelampiasan ia jatuh dalam pelukan nafsu pria terdekatnya. Dan ia mencoba mengakhiri hidupnya dirumah tua tak bertuan deretan akhir dalam komplek. …. Warna Namanya..

 




Penulis: "Huma" Rd. M. Imam Abdillah
Blog: 2 Posting
Foto: 0 Posting
Video: 0 Posting

Link