Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/mhpkbtn/public_html/config/koneksi.php on line 12
MAHAPEKA Banten | Sekret dan Segelas Kopi Hitam

Blog

Opini, Ide, Gagasan, Saran, Kritik, Puisi, `Artikel Ilmiah

Sekret dan Segelas Kopi Hitam


Pagi yang cerah, setidaknya bagi  mereka yang bangun sejak shubuh , yang menunaikan sholat shubuh lalu mengaji dan membuka beberapa lembar ilmu pengetahuan, yang berolahraga menjaga kebugaran diwaktu pagi, yang mandi lalu sarapan dan bersiap beraktivitas menyambut hari. Atau mereka yang sedari pagi sudah beraktivitas dengan semangat berapi-api. Apapun itu.  Satu hari yang seharusnya dinikmati – memberi arti.  

Pagi yang cerah tidak seperti itu disini, bangun pagi sama saja dengan masuk kerumah misteri yang sarat dengan suasana mistisnya, kalian akan menemukan nyawa-nyawa tergelatak bergelimpangan dengan suara-suara gentayangan yang saling bersahutan ”yaa terus bro”-“kenapa-kenapa”-“jangan woi-gw nyusul” dan suara berikutnya menyahut. Bangun pagi disini sama saja dengan menyia-nyiakan mimpi indah, menyia-nyiakan waktu untuk istirahat yang lelap. Sebelumnya – kita sepakati pagi disini adalah pukul 07.00-10.00.  sebelum itu kita menyebutnya dengan dini hari, diatas jam 10.00 adalah siang hari.

Pagi yang cerah,, 08.34, seorang kawan terbangun dari tidur nya,mata nya masih menyipit menahan silau matahari “pagi”, rambutnya kusam berantakan –mengembang seperti bulu landak yang merasa terancam , dia duduk bergeming mengoyang-goyangkan bahunya , aku berpikir mungkin itu cara dia berolahraga sejak bangun tidur. Tangannya mengais tumpukan tas disekitarnya mencari sesuatu, itu HP nya dia memperhatikan sesaat, mungkin dalam benakku dia sedang melihat adakah pesan masuk untuknya,atau panggilan yang tak terjawab, atau sekedar mencari tahu “ini jam berapa”.  Lalu bersandar di bilik bambu , kembali memberikan jedah waktu untuk ngumpulin nyawa ditubuhnya.

Satu kawan lagi mendadak bangun dan tanpa kompromi dengan mata yang setengah terpejam , tanpa kompromi dengan tangan yang mungkin masih lemas, badan yang masih ingin berbaring, dan tanpa kompromi dengan waktu untuk santai sejenak. Dia bangun , langsung berdiri, berjalan miring-miring ke kamar mandi. Aku pikir ini anak kebelet ,udah di ujung itu .. wajar bangunnya sigap langsung bergerak. Ini masalah pembuangan.gak ada kompromi atau semuanya bakal ternodai.

Aku sendiri, malam ini terjaga penuh sampai sekarang. Kuperhatikan keduanya sudah “booting” dan mulai terkoneksi dengan dunia nyata. Meskipun kepekaannya menagkap sinyal berita masih 1mbps.. bukan masalah. Kami bertiga duduk disaung bambu halaman depan sekretariat dan bersebelahan dengan fotocopian kampus, berbincang santai -  duduk jantan sambil melihat pemandangan lalu lalang gadis-gadis pelajar (mahasiswi), sesekali kawan ku bersiul menggoda dan sesekali kami menyapa memanggil untuk mengajak duduk bercerita... yaah inilah yang disebut pagi yang cerah bagi kami, cerah – memandang gadis-gadis pelajar. Satu kawan lagi belum terbangun, sayang dia melewatkan pagi yang cerah ini.

Suasana ini tidak kami sia-siakan, pagi ini akan kami buat lebih cerah. Disamping fotocopian ada warung , kami memesan segelas kopi hitam. Sambil bermain gitar gonjrang-gonjreng bernyanyi..melatih jiwa seni. Sambil berkomentar sana sini, melatih daya argumentasi. Sambil juga ... menggoda gadis gadis pelajar, melatih mental lelaki.

Dan menu wajib pagi yang cerah disini adalah segelas kopi hitam. Satu gelas kopi hitam untuk berapapun orang yang berkumpul disini. Seperti trafficlight , kopi hitam adalah lampu merah.. artinya berhentilah sejenak disini untuk satu dua kali nyeruput kopi.

09.22 masih disini, masih kumainkan gitar dengan lagu-lagu perdamaian merah-kuning-hijau –, kedua kawan ku masih beradu argumentasi dengan topik-topik terhangat, ”saya bingung.. saya pernah berjalan berdua dengan seorang gadis, dia pacar saya. Dan saya berpegangan tangan disepanjang jalan jika kami sedang bersama,, tapi itu saya dimarahin katanya itu haram..itu dosa...itu neraka. Saya takut kan jadinya,, akhirnya minggu berikutnya saya gak lagi pegangan tangan sama pacar saya, saya malah pegangan tangannya sama kawan kelas saya..dia cowok yang baik. Tapi yang terjadi saya malah di bulli abis-abisan.. ini kenapa ? terus saya harus pegangan tangan sama siapa ??”

Satu lagi ikut memberikan keluhannya tentang fenomena remaja di era modernitas saat ini, ”saya bingung - sekarang mana yang baik dan mana yang buruk itu bercampur jadi abu-abu. Ada orang yang baik penampilannya, baik tutur katanya, baik kelihatannya .. tapi lihat berita kemarin pagi dikorankan? Ternyata busuk dibelakangnya, dia berasusila, menipu, merusak, mempermalukan almamater. Ada juga orang yang penampilannya urak-urakan, gondrong berkumis dan tampang reman.. tapi ya puji tuhan... mereka tahu sopan santun dengan orang tua, dan mereka apa adanya tidak menipu sesama, tidak merusak lingkungan, dan yang hebatnya menghargai kesucian wanita.. kayak kita ini (sambil mengangkat tangannya dan menunjuk kearah kami bergantian) – jadi bagaimana solusinya supaya kita tau mana orang baik dan mana orang yang tidak baik ??”

Satu sama lain saling berargumentasi menimpali, ini persis seperti acara di salah satu stasiun TV , Indonesian Layers Club. Tapi kami sepakat menggantinya untuk disini menjadi Indonesian Lalieuuur Club. Dimana masalah dibahas gak tuntas, solusi sama sekali gak dicari. Anggaplah Hitung-hitung membuat pagi ini lebih cerah, kopi hitam kami tinggal setengah.

“jadi fenomena remaja ini, kalau saya perhatikan sebetulnya ini masalah yang komplek bro.. satu sisi kita tidak bisa menahan alur perkembangan zaman, era modernitas, tekhnologi makin canggih, dan informasi mudah tersebar, fashion barat jadi kiblat, dan budaya-budaya kita tidak sedikit yang terkikis bahkan tergerus budaya barat yang mengedepankan Freedom. Tapi disisi lain, ini angin segar untuk kita meningkatkan daya kreatifitas kita, meningkatkan skill keilmuan kita dengan akses yang lebih mudah, memberikan ruang selua-luasnya untuk semua orang berkompetisi. Aah..memang dunia abu-abu, negara abu-abu, pemerintah abu-abu, pasar abu-abu, kampus juga abu-abu,, pertanyaannya sekarang adalah ... siapa yang harus ngubur mayat kucing itu ? (dia menunjuk seekor anak kucing yang tergeletak mati dengan sebelah badannya habis – perkiraanku itu dimakan ibunya semalam, aku pernah melihat seekor indung kucing memakan anaknya sendiri, suwerr..)

09.45 segelas kopi hitam sudah tinggal satu tegukan, sayangnya itu sudah tidak bisa diseruput lagi.. dua kawanku beberapa saat tadi menjadikan nya asbak,membuat abu rokok ke dalamnya.  Kami berhenti bernyanyi dan berargumentasinya, lekas menunaikan kewajiban sebagai manusia berakal kepada hewan yang mati terkapar. Memandikannya, membungkusnya dengan kain kafan (terbuat dari daun pisang), lalu mensholatinya... aah tidak , kami tidak mensholatinya sebab kucing  itu bukan manusia dan belum tentu dia beragama seperti kami, kami langsung menguburnya di area belakang pohon jati.

Usai menguburkan – kawanku yang sedari tadi tertidur pun bangun ,mungkin mendengar ada pemakaman kucing, mungkin merasa lelah dengan tidurnya, mungkin juga teringat sesuatu yang penting untuk dikerjakannya hari ini.

Dia bangun, matanya penuh terbuka, rambutnya berserakan abu rokok hasil keisengan kawan-kawan.. duduk lalu melamun,, tangan nya bergerilya disela-sela tas yang bertumpuk mencari sesuatu, aku pikir dia mencari HP untuk melihat pesan masuk atau panggilan tak terjawab dan melihat jam sekarang. Aku memabantunya “sekarang Jam 09.55 luur”.ternyata yang dia cari bukan HP, tapi kacamatanya.. aku lupa bagaimana dia bisa baca HP kalau belum pake kacamata. Akhirnya dia mendapatkannya, memakainya dengan santai seakan itu jadi tanda yang berarti “saya ON..siap bertempur”. 

Kami masih beridiri, dia duduk menghadap lurus ke arah gadis-gadis berkelas yang ramai berlalu lalang..sama seperti kami tadi.. dilihatnya gelas kopi hitam yang terhidang , diambilnya gelas kopi itu,, lalu dia seruput. Kami tercengang. ... “ini kopi tadi kan .. pait .. kok ada abu-abunya ?” lalu dia seruput lagi. Kami tak kuasa langsung meledak tertawa – terbahak kencang. Maaf kawan, itu abu rokok. ”oh abu rokok,,,gak apa-apa sehat kok,, yang penting masih ada rasa kopinya, sah. Gitu aja kok masalah” dia ngeles, membela diri supaya tidak ditertawakan sambil berjalan menjauh ke arah kamar mandi, bukan membuang air aku rasa, tapi membuang isi perut yang menelan abu rokok campur dedek kopi, dan membuang malu pastinya. Ini pagi yang cerah untuk kami. sangat cerah. pagi ini kami akhiri dengan gelak tawa. Suasana yang pasti kami rindukan 10 tahun mendatang.




BACA JUGA:
Rd. M. Imam Abdillah

Rd. M. Imam Abdillah (Huma)

-