Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/mhpkbtn/public_html/config/koneksi.php on line 12
MAHAPEKA Banten | Gunung Pulosari dalam Ingatan pendaki kilas balik part 1

Blog

Opini, Ide, Gagasan, Saran, Kritik, Puisi, `Artikel Ilmiah

gunung-pulosari-dalam-ingatan-pendaki-kilas-balik-part-1

Gunung Pulosari dalam Ingatan pendaki kilas balik part 1


Aku, mungkin kata itu terdengar terlalu angkuh . tapi inilah aku dengan segala kekurangan dan keterbatasan meraih apa yang dicita-citakan.  Ini sepenggal cerita untuk semangat bagi para pemimpi yang harus segera bangun dari tidur dan mulai melangkah perlahan tapi pasti jika tidak bisa langsung berlari.

Nama lengkapku Ika Astaprilia Budiarti (katanya sih dari bahasa sansakerta itu nama) tapi biasa dipanggil ika (dirumah dan sekolah), chika (sekolah dan kuliah), penyut (nama panggilan dikampus, dan lainnya dimana-mana nama ini jadi kebanggaanku kedua setelah nama ika karena ikut MAHAPEKA alias nama lapangan) .

Persahabat adalah segalanya itulah yang selalu kutanamkan dalam jiwa, kalian tahu mengapa begitu karena sahabat adalah seseorang yang akan memahami dan selalu berusaha untuk tetap ada ketia sahabat yang lainnya jatuh,terluka, bahkan dalam keadaan salah sekalipun. Sahabat adalah orang yang mengatakan kebenaran kepadamu, bukan yang membenarkan perkataanmu, memberikan pengertian dan pemahaman yang benar, membetulkan perlakuan yang salah.

Aku tidak ingat sejak kapan mulai mendaki pegunungan, menjelajah hutan, menyusuri sungai.. karena sejak kecil adalah waktu yang tak pernah terhenti, aktivitas apapun bagiku adalah sesuatu yang harus aku taklukan, harus kuketahui meski banyak hal yang tidak banyak orang memahami betapa mataku ini memiliki keanehan tersendiri. Hidup adalah petualangan, begitulah salah satu kata yang pernah kutulis dalam diary pertamaku.  

Ini tentang gunung yang pertama kalinya aku daki (seingatku begitu), biasa dipanggil Pulosari atau Gunung Pulosari. Gunung Pulosari adalah gunung berapi di Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten, Indonesia. Meski belum pernah aku dengar atau mungkin memang tidak ada data letusan yang pernah terjadi, tapi terdapat aktivitas kawah yang terjadi di dinding kaldera dengan kedalaman 300 meter.

Menurut , sejarah Banten sesampainya dibanten Girang , Sunan Gunung Jati dan puteranya, hasanuddin, mengunjungi Gunung Pulosari yang saat itu merupakan tempat kramat bagi kerajaan. Di sana, Gunung Jati menjadi pemimpin agama masyarakat setempat, yang masuk Islam. Baru setelah itu Gunung Jati menaklukkan Banteng Girang secara militer. Kemudian dia menjadi raja dengan restu raja Demak . Dengan kata lain, Gunung Jati bukan mendirikan kerajaan baru, tapi merebut tahta dari kerajaan yang sudah ada, yaitu Banten Girang.

Pertama kali naik  Gunung Pulosari itu sejak sekolah menengah pertama, dengan beberapa teman dan guru saat itu . hanya sekali bersama mereka setelah pindah sekolah , bertahun-tahun kemudian saat Sekolah Menengah Atas  (SMA) , aku dan teman-teman kelas UNO SCIENTE (nama angkatan kelas IPA satu yang diambil dari kata italia kalo tidak salah begitu). Aku adalah salah satu orang yan beruntung bisa masuk jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) karena saat itu kelas IPA hanya dibuat untuk satu kelas saja, menjadi kelas unggulan. Tapi tahukah kalian bahwa anak kelas IPA adalah kelas yang sangat penuh kejutan, bagi siapapun yang memasukinya. Eh, itulah sepenggal cerita kelas.. lanjut lagi ke cerita pendakian gunung pulosari.

Entahlah, saat itu pendakian ke berapa aku lupa (maklumlah punya penyakit lupa akut), saat  itu adalah  libur hari jumat, sabtu, minggu.  Jauh banget memang kalo dari tempatku sekolah dahulu yaitu Jalupang , kecamatan banjarsari kabupaten lebak banten. Menuju pandeglang ke pertigaan Mengger naik mobil (nama panggilannya sih mobil PS) bayarnya Rp.10.000/orang sekitar 3 jam kalo sekarang ongkosnya sekitar Rp 30.000, setelah sampai Mengger lurus ke arah Mandalawangi lurus terus sampai ke Pari, tidak jauh dari pasar Pari sekitar 2 - 3 km sebelum turunan Banganga (Banganga itu nama tanjakan yang banyak  hantunya loh alias Jin, yang aku lihat begitu, kayaknya sering banyak korban kecelakaan, akhh, mohon dimaklum mata jelalatan gak bisa lihat yang aneh ). Ketempat tadi itu namanya kampung Cilentung, lewat jembatan sedikit dari kampung pandat, bayar angkot  dulu Rp.3000/orang kalo sekarang sekitar Rp.7000/ orang kalo belum naik. Kita biasanya istirahat diwarung Emak (nama ibu warung deket jalan ada disebelah kanan sebelum ke kampung cilentung). Dari tempat Emak ke jalan pendakian lumayan sekitar 2 km. waktu itu sih kita langsung naik aja, gak perlu yang namanya wajib bayar (karena ini cerita dulu  lain sekarang yah). Masih aku ingat itu harga zaman dulu Rp.0 , terus ada perubahan bayar tiketnya aja Rp.1000,terus Rp.1.500.  selanjtnya Rp.2000 dan terakhir kesana Rp.5000 (kalau belum naik lagi itu harga), katanya sih bayar itu untuk pelestarian Gunung Pulosari.

Dari pertama mendaki memang sangat melelahkan untuk ku yang tidak suka jalan menanjak , yah karena suka naik gunung jadi suka ataupun tidak suka harus jalan dan dinikmatin (peace). Jalanan pertama itu yah kebun warga, karena Gunung Pulosari tidak terlalu tinggi sekitar 1346 Mdpl. Tapi track tidak bisa disepelekan.  Dari jalan untuk mendaki (alias kebun warga) sampai curug putri sekitar 1 jam 30 menit (kalo jalan santai banget), dari curug putri ke kawah sekitar 2 jam 30 menit (santai banget), dikawah bisa jadi shelter untuk istirahat karena ada sumber mata air untuk memasak asalkan pintar memilih air karena airnya tercampur belerang, tapi beberapa tidak terasa belerang sekalipun terlihat ada belerang putih (itu waktu dulu). Dikawah pemandangannya sangat indah, hangat dan wangi khas belerang.  Kalau sudah berkali-kali kesana pasti akan tau betul setiap perubahan yang terjadi. Oh ya, menuju puncak Gunung Pulosari dari kawah itu sekitar 1 jam (jalan santai).  Siapapun bisa melakukan perdakian, bukan permasalahn ketinggian tetapi masalahnya adalah keinginan dan usaha yang maksimal untuk melakukan berbagai hal.

Sekarang  mungkin Gunung Pulosari sudah tidak seperti dahulu, dari waktu ke waktu  terlihat perubahan dimana keadaan alamnya masih sangat terjaga, selain karena memang karena faktor alam tetapi faktor manusia seperti para pendaki maupun masyarakat sekitarnya sangat berpengaruh.  melestarikan itu adalah soal kesadaran, seandainya saja semuanya sadar bila kedamaian dihutan, keindahan diketinggian itu sangat penting maka jauh lebih penting pula untuk tetap menjaganya dari sampah-sampah  yang kita bawa sebagai bekal saat pendakian. Mari bersama menjaga alam yang dititipkan TUHAN dan sebagai anugerah dimana salah satu tempat mendapatkan kedamaian.

Mengenai mistis digunung pulosari, yah itu sesuatu hal yang sudah biasa, kalau orang-orang hanya akan mengatakan katanya tetapi lain halnya dengan aku yang mengalami sendiri setiap kejadian dan bertemu dengan hal-hal yang memang sulit difahami. Tuhan menciptakan alam dengan segala isinya termasuk malaikat, jin dan manusia.  Yang terpenting adalah kita harus selalu menghormati alam dan isinya ini , tentu kita telah diajarkan tentang etika. Jadi jagalah etika lingkungan kemanapun, diamanapun dan dalam keadaan apapun.

Salam Lestari dan Salam Rimba

 

 




BACA JUGA:
Ika Astaprilia Budiarti

Ika Astaprilia Budiarti (Penyut)

-S3CBBI_Be My Self.. Tanpa Tuhan kita Bukan manusia